Selasa, 10 April 2012




Download

Rabu, 04 April 2012

postingan kali ini saya akan menceritakan asal mula genteng jatiwangi. Bapak Uhe adalah orang yang berjasa atas pembuatan genteng jatiwangi tepatnya di desa Burujul,waktu itu bapak uhe membuat jenis genteng tradisional, karena mesin cetak untuk genteng belum ditemukan dan itu pun masih bersifat terbatas pembuatannya. setelah bpk uhe menggeluti usaha tersebut masyarakat sekitar mulai tertarik dengan apa yang dikerjakan bpk uhe,lalu bpk uhe mengajarkan cara pembuatan genteng kepada masyarakat sekitar. Setelah bpk uhe wafat beliau tidak mewariskan perusahaan pabrik gentengnya kepada anak-anaknya, hanya masyarakatlah yang mengembangkan usaha genteng tersebut sampai sekarang. Seiring berjalannya waktu pembuatan genteng secara tradisional/generasi pertama mulai ditinggalkan karena sekitar tahun 60-an bapak Ikhwan  menemukan cara pengolahan yang baik supaya kualitas genteng bagus.
Pada tahun 1962 salah satu dari Pengusaha genteng pernah di datangi oleh pendiri sekaligus mantan wakil presiden pertama RI, yaitu Bapak Muhammad Hatta. Bapak Muhammad Hatta mengunjungi salah satu pabrik genteng yang dikelola oleh Bapak Harsa,Bapak Hasra Memandu beliu berkeliling melihat suasana dan cara pembuatan genteng dan pada waktu sesi istirahat Bapak Muhammad Hatta dihidangkan air kelapa muda (dawegan=bhs.sunda) yang diambil langsung dari pohon bapak Harsa.

Pada tahun 1977 seiring bergulirnya waktu pada masa orde baru yang dipimpin oleh bapak Soeharto yang dalam programnya, yaitu PELITA. Sebagian masyarakat yang dulunya mengolah genteng secara tradisonal lalu merubahnya menjadi mesin, mungkin saja faktor program pembangunan mempengaruhi desa tersebut, karena disamping lebih cepat serta lebih ringan dalam pengolahan genteng yang dilakukan para pekerja. Sekitar pada tahun 1980 sampai tahun 2000 masyarakat yang mempunyai modal mulai membuka usaha sendiri-sendiri (individual), dikarenakan masyarakat mulai tertarik untuk merintis usahanya dan kebanyakan para pengusaha itu sendiri hanya berpendidikan SMA/SMEA ke bawah. Tak tahu kenapa para pengusaha lebih memilih untuk mengembangkan pengusahanya dari pada mencari ilmu, di karenakan menurut pemimpin sekaligus sebagai ketua Apegja mengatakan bahwa “saya sudah mengelola usaha genteng ini dan alhamdulillah maju serta mendapatkan apa yang saya dapatkan tercapai, untuk apa sekolah tinggi toh akhirnya akan mencari kerja/uang".

Tetapi ketika badai krisis ekonomi dan moneter menghantam Indonesia, masyarakat Jatiwangi pun terkena imbas. Ini diakibatkan tidak seimbangnya harga genteng dan bahan baku, naiknya upah buruh dan daya beli masyarakat yang semakin melemah. Keadaan itu diperparah oleh sepinya proyek pemerintah sehingga mengakibatkan banyaknya perusahaan yang gulung tikar . Seperti yang terjadi pada desa burujul wetan yang mana sangat kesulitan untuk memasarkan produk yang dikelola masing-masing pengusaha, pada akhirnya para pengusaha pun banyak yang kehabisan modal dan sulitnya untuk memasarkan produk genteng. Karena situasi pada saat itu belum stabil perekonomiannya, maka banyak pengusaha yang menyerah pada waktu itu, tetapi ada salah satu pengusaha genteng yang masih bertahan pada saat ini, walaupun terkena ganasnya ombak krisis global, tetapi ia masih bertahan. Walaupun ada sedikit bergejolak yang menimpa tetapi masih bisa diatasi oleh pengelolanya. Pengusaha yang masih eksis sampai sekarang, salah satunya ialah PG. Apip Indotiles.

Seperti yang ada saat ini pengusaha genteng yang berada di desa burujul wetan ada 124 pengusaha genteng baik itu genteng yang dikelola pada kalangan kecil, menengah maupun besar ( Produksi ). Produksi genteng yang dihasilkan dari para pengusaha desa tersebut beragam dari Palentong, Morando dll.Industialisasi yang dilakukan masyarakat desa Burujul wetan ternyata tidak hanya membawa pada aspek kemanfaatan saja tetapi mempengaruhi pada aspek lingkungannya juga. Seperti pengeksploitasian terhadap pohon di hutan yang ditebang untuk dijadikan bahan bakar pemanasan genteng.

 "Saya sebagai putra asli Burujul Wetan bangga atas semua pencapaian desa Burujul Wetan yang telah mengharumkan Desa Burujul Wetan dan Indonesia di negara tetangga karena genteng kami yang berkualitas tinggi.Tapi saya tidak bangga karena mengingat banyaknya pohon-pohon yang ditebang untuk dijadikan bahan bakar pembakaran, jika saja pemerintah tidak menaikan harga bahan bakar gas mungkin sampai sekarang pabrik genteng masih menggunakan BBG dan masalah eksploitasi hutan menjadi berkurang"

Senin, 02 April 2012

Indonesia adalah egeri yang kaya kaya akan keragaman suku, budaya,energi serta sumber SDM . sejak kecil saya sudah mendengar kata "indonesia itu negeri yang tidak ada duanya, negara tetangga pun iri akan negeri tercinta ini" ya memang benar tetapi dengan semua kekayaan itu rakyatnya banyak yang sengsara dan inilah bukti bahwa indonesia itu sangatlah kaya.

Indonesia mempunyai tambang emas terbesar dengan kualitas terbaik didunia.
Kandungan emas yang terdapat di tambang ini ketika pertambangan ini dibuka hingga sekarang, telah mengasilkan 7,3 juta ons tembaga dan 724,7 juta ons emas. Bahkan ketika emas dan tembaga disana mulai menipis ternyata dibawah lapisan emas dan tembaga tepatnya di kedalaman 400 meter ditemukan kandungan mineral yang harganya 100 kali lebih mahal dari pada emas, yaitu.....URANIUM! Bahan baku pembuatan bahan bakar nuklir itu ditemukan disana. Belum jelas jumlah kandungan uranium yang ditemukan disana, tapi kabar terakhir yang beredar menurut para ahli kandungan uranium disana cukup untuk membuat pembangkit listrik Nuklir dengan tenaga yang dapat menerangi seluruh bumi hanya dengan kandungan uranium disana.Freeport banyak berjasa bagi segelintir pejabat negeri ini, para jenderal dan juga para politisi nakal, yang bisa menikmati hidup dengan bergelimang harta dengan memiskinkan bangsa ini.

Indonesia mempunyai cadangan gas alam terbesar didunia,tepatnya di blok NATUNA.
Blok Natuna D Alpha memiliki cadangan gas hingga 202 TRILIUN kaki kubik!! dan masih banyak Blok-Blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu dll.tapi sayang banyak dikelola oleh perusahaan asing seperti EXXON MOBIL.

Indonesia memiliki hutan tropis terbesar didunia.
Hutan tropis indonesi memiliki luas 39.549.447 Hektar, dengan keanekaragaman hayati dan plasmanutfah terlengkap di dunia. Letaknya di pulau Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi. Sebenarnya jika negara ini menginginkan kiamat sangat mudah saja buat mereka. Tebang saja semua pohon di hutan itu maka bumi pasti kiamat.

Karena bumi ini sangat tergantung sekali dengan hutan tropis ini untuk menjaga keseimbangan iklim karena hutan hujan amazon tak cukup kuat untuk menyeimbangkan iklim bumi.

tetapi kian hari indonesia telah kehilangan banyak hutan tropis karena ulah penebang liar dan segelintir orang yang ingin membuka lahan untuk perkebunan sawit,jika terus dibiarkan indonesia akan menjadi kepulauan tandus.

Indonesia memiliki lautan terluas didunia
indian-ocean Dikelilingi dua samudra, yaitu Pasifik dan Hindia hingga tidak heran memiliki jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki negara lain. Saking kaya-nya laut negara ini sampai-sampai negara lain pun ikut memanen ikan di lautan negara ini.
jangan sampai keanekaragaman ikan di indonesia hilang/punah karena banyaknya nelayan yang menggunakan bom dan racun.

Indonesia tanah tersubur didunia
Karena memiliki banyak gunung berapi yang aktif menjadikan tanah di negara ini sangat subur, terlebih lagi negara ini dilintasi garis khatulistiwa yang banyak terdapat sinar matahari dan hujan.

Jika dibandingkan dengan negara-negara Timur Tengah yang memiliki minyak yang sangat melimpah negara ini tentu saja jauh lebih kaya. Coba kita semua bayangkan karena hasil mineral itu tak bisa diperbaharui dengan cepat.

Dan ketika seluruh minyak mereka telah habis maka mereka akan menjadi negara yang miskin karena mereka tidak memiliki tanah sesubur negara ini yang bisa ditanami apa pun juga. “Bahkan tongkat kayu dan batu jadi tanaman.”

Puisi Untuk Negeri Indonesia

Apalah arti gunung-gunung tinggi menjulang
Berbaris rapi penuh keindahan
Hijau dan biru nan segar dipandang
Vila-vila berjajar tawarkan godaan
Berjibun kekayaan terpendam di dalamnya

Namun di lereng tampak setumpuk sampah
Hitam dan cokelat nan perih dipandang
Berbaris rumah tak layak tinggal
Terdengar tangis bayi kelaparan
Suara rintih ibu menahan kenyataan
Seorang ayah tak kuat lagi menahan beban
Bocah-bocah kecil berlarian tak berseragam

Gedung-gedung tinggi pencakar langit
Tertata megah hiasi metropolitan
Pejabat berseragam mulai berdatangan
Dengan mobil tanpa segaris goresan
Pulang sudah membawa uang sekarung
Dan makan hingga perut mengembung

Namun yang ada di bawah gedung itu
Gerobak kaki lima yang tak tahu nasib
Saat polisi menggerebek dan merusak
Para pemulung siap berangkat
Mendaki gunung-gunung sampah
Bocah-bocah berlarian di tengah jalan
Mendekati mobil-mobil tuk menadahkan tangan
Tanpa seragam tanpa sepatu
Hanya gitar dan gelas plastik
Buruh-buruh tetap bertahan
Walau terus sesalkan upah

Lautan biru luas terbentang menantang
Angin komandokan ombak bergulung-gulung
Datang silih berganti menepi di bibir pantai
Berjuta ikan berenang tawarkan diri
Bertriliun kekayaan tersimpan di dalam
Terumbu karang hiasi lautan
Mutiara bersinar kilaukan samudera

Namun apa yang di pantai
Perahu nelayan berjajaran siap berangkat
Nelayan siap melawan badai dan menerjang ombak
Walau di tengah lautan yang luas
Nyawa jadi taruhan demi mencari secuil kekayaan lautan
Kail dan jala masih tidak cukup menghidupi mereka
Apa arti indahnya biru lautan
Jika mereka tak bisa beri makan keluarga
Anak-anak masih bersepatukan pasir dan berpensil pancing

Inilah negeri kita..
Yang katanya kaya tapi sengsara..
Dewan Harian Nasional Angkatan 45 mencatat, sepuluh pejuang kemerdekaan meninggal dunia setiap hari karena usia lanjut. Sementara bagi bekas pejuang yang masih hidup, mereka ternyata harus berjuang melawan kemiskinan. Seperti apa kisah hidup para pejuang yang tersisa? Reporter KBR68H Ikhsan Raharjo menemui mereka di saat peringatan Hari Kemerdekaan.

Momen Tak Terlupakan

Sebuah lakon drama sedang dipentaskan di Gedung Joeang ’45 Menteng, Jakarta. Drama itu dimainkan oleh sekelompok anak muda. Mereka memerankan tokoh-tokoh kemerdekaan seperti Soekarno, Hatta, Wikana, dan Sukarni. Dialog berisi perdebatan yang terjadi antara Sukarno-Hatta dengan para pemuda pejuang tentang kapan saatnya Indonesia harus memproklamirkan kemerdekaan.

Ratusan penonton menyaksikan adegan demi adegan dengan khidmat. Yang paling serius menonton adalah 150-an bekas pejuang angkatan 45. Mereka khusus diundang pada acara ini oleh Pengurus Gedung Joeang ’45.

Beberapa dari bekas pejuang itu matanya terlihat berkaca-kaca. Mereka seperti mengingat kembali kejadian 66 tahun silam.

Cholil misalnya. Pria asli Betawi itu masih ingat betul detik-detik menjelang proklamasi. Saat itu, Cholil yang masih berusia 18 tahun diperintah komandannya untuk menjaga keamanan di daerah Kebayoran Baru, Jakarta.

“Saat itu BKR (Badan Keamanan Rakyat-red) masih siaga melawan Jepang. Meski kan Jepang udah menyerah kalah. Jepang kan di bom atom. Jepang sebenarnya sudah tidak melawan, tapi kita tetap waspada”, kenang Cholil.

Pengalaman yang hampir sama juga dialami Johny Julius Pyoh. Ketika itu usianya masih 17 tahun. Johny berstatus pelajar MULO atau sekolah lanjutan tingkat pertama.

“Saat pembacaan proklamasi, saya ada di belakang, di rumahnya Fatmawati. Karena menjaga dari belakang kalau ada kereta api pasukan Belanda dan Jepang. Pokoknya musuh kita itu Belanda dan Jepang. Situasi masih gawat. Presiden (Sukarno-red) saja masih takut”, cerita Johny yang menanggalkan cita-cita menjadi guru demi perjuangan.

Lain halnya dengan Kasiyah Supadmo. Saat pembacaan proklamasi kemerdekaan dia sedang bertugas sebagai perawat di Rumah Sakit Majalaya, Jawa Barat. Usianya baru 22 tahun. Tugasnya keluar-masuk hutan merawat pejuang yang terluka.

“Ya pokoknya mendampingi tentara tugas. Kalau di dalam hutan, dokter di dalam pos saja. Tapi kalau saya dan perawat lain mengikuti (tentara). Perawat perempuan cuma saya sendiri. Saya merawat luka tembak dan sakit. Pokoknya saya itu mati senang, hidup senang.”

Kisah-kisah heroik tadi harus selalu dikenang oleh masyarakat. Begitu kata Ketua Panitia Peringatan Proklamasi Kemerdekaan dari Gedung Joeang 45, Bayu Niti Permana.

“Kita ingin mengangkat peristiwa ini sebagai sebuah ajang untuk mengingat sejarah masa lalu. Jangan sampai kita melupakan sejarah. Satu malam itu adalah satu peristiwa penting yang harus diingat anak bangsa. Bahwa segala sesuatu yang dipersiapkan sematang mungkin belum tentu berjalan mulus. Tapi dalam waktu satu malam saja itu bisa berubah. Dan itu memang harus diperjuangkan. Kalau bukan sekarang, kapan lagi?”

Selain drama, Gedung Joeang 45 juga menggelar pawai napak tilas proklamasi kemerdekaan. Peringatan ini rutin dilakukan sejak 1980-an.

Jalan Menteng Raya di depan Gedung Joang 45 dipenuhi seribuan orang. Mereka dari kalangan pelajar, pramuka, perwakilan daerah, serta komunitas-komunitas pencinta sejarah. Bersama para veteran pejuang, mereka akan berpawai dari Gedung Joeang 45 hingga ke Tugu Proklamasi yang berjarak sekitar tiga kilometer.

Hari itu para pejuang angkatan 45 begitu dielu-elukan masyarakat. Tapi di balik itu, sebagian dari mereka masih harus berjuang melawan kemiskinan.

Terjajah Kemiskinan

Pagi 17 Agustus lalu, rumah Ilyas Karim lebih ramai dari biasanya. Ilyas tinggal di pinggir rel kereta api di Kalibata, Jakarta. Sesekali kaca jendela rumahnya bergetar ketika kereta api melintas.

Seharusnya hari itu Ilyas mengikuti upacara bendera di Istana Merdeka. Namun, ia menolak datang. Ilyas terlanjur kecewa kepada Presiden Yudhoyono karena mengingkari janji pada pejuang.

“Waktu SBY saya diundang tapi saya ndak mau karena dia pembohong kepada saya. Saya datang hanya ke undangan Gubernur DKI Jakarta di Monas. Dulu (SBY-red) pernah janji mau bantu kami pejuang (Divisi-red) Siliwangi. Dia pernah datang ke kantor saya. Dia bilang, “Pak saya mau mencalonkan jadi presiden. Saya minta bantu karena bapak orang Siliwangi dan banyak temannya.” Lalu saya bilang, “Nanti kalau menang jadi presiden jangan lupa sama pejuang”. Tapi kenyataannya dia tidak mau tahu dengan pejuang. Dia ingkar janji, makanya saya tidak ikut pengibaran bendera di istana.”

Darnis, istri Ilyas Karim, mengaku terpaksa meminta bantuan dari anak-anaknya tiap bulan. Kata Darnis, tunjangan pensiun suaminya tak cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Ilyas menerima tunjangan pensiunan tentara dari kesatuan Angkatan Darat.

“Anak-anak membantu. Kalau dari bapak, berapa lah pensiunnya. Bayar telepon dan lampu saja sudah banyak sekali habisnya. Jadi ibu kalau dikasih bapak berapa saja diterima. Tapi Ibu tidak pernah tanya. Sampai untuk beli beras sekarung saja ibu cuma dikasih bapak Rp 500 ribu. Kalau kita tidak ada tamu tahan dua bulan beras sekarung itu. Kan yang besar itu uang lauk pauknya.”

Ilyas dan Karim juga terancam harus angkat kaki dari rumah kecil yang mereka huni sejak 26 tahun lalu. Ini menyusul kabar, rumah itu bakal digusur oleh PT Kereta Api Indonesia. Ilyas mengadukan hal itu ke Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo. Hanya janji-janji yang ia terima.

“Untuk bapak akan saya usahakan rumah nanti. Saya bukan anak-anak. Kalau anak-anak dikasih permen, berhenti nangis. Kalau saya sudah tua. Lebih tua dari Gubernur. Kalau Gubernur ingin mengusahakan rumah kepada saya, tapi anak buahnya mengusir saya. Ke mana barang akan saya bawa? Kalau gubernur ikhlas, kasih saja kunci rumah. Baru saya yakin. Tapi saya tidak yakin sama pejabat sekarang.”

Sekitar pukul 10 pagi, Ilyas dan isterinya dijemput seseorang dengan mobil. Mereka akan menghadiri undangan dari perusahaan pengembang apartemen di seberang rumah mereka.

Ternyata hari itu Ilyas mendapatkan satu unit apartemen di kawasan Kalibata. Ini adalah penghargaan dari perusahaan itu atas jasa-jasa Ilyas Karim.

Dia dianggap berjasa karena menjadi pengibar bendera merah putih saat pembacaan teks proklamasi 66 tahun lalu. Kepada KBR68H, Ilyas menunjukkan foto peristiwa tersebut. Dia mengaku sebagai pria bercelana pendek dengan posisi membelakangi kamera.

“Yang pakai topi itu teman saya Sudanco (Komandan-red) Singgih. Orang Jawa. Tentara PETA (Pembela Tanah Air-red). Ini saya yang celana pendek. Ada tulisan di bawahnya. Ini yang celana pendek saya ini. Ini ibu Fatmawati.”

Namun menurut sejarawan Bonnie Triayana, pengakuan Ilyas Karim perlu dicek dan diteliti lebih jauh. Pasalnya, ada beberapa keterangan yang dianggap Bonnie meragukan.

Misalnya, pengakuan Ilyas yang bermalam pada 16 Agustus 1945 di Gedung Joeang, atau saat itu disebut Menteng 31. Gedung itu dulu menjadi markas pemuda-pemuda berideologi kiri. Sementara Ilyas juga mengaku dia bergabung dengan pejuang dari kalangan Pemuda Islam.